-Doenia Bergerak-
Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia.
Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap, 
Sehingga hanya kulit tersisa. 
Siapapula tak memuji sapi dan kerbau?
Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya.
Tapi  kalau mereka tahu hak-haknya, 
orang pun akan menamakannya pongah, karena tak mau ditindas.
Bahasamu terpuji halus di sekuruh dunia, dan sopan pula. 
Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo, 
dan orang laun menegurmu dalam bahasa ngoko.
Kalau kau balikkan, kau pun dianggap kurang ajar. 

-H.O.S Tjokroaminoto, 1941-


-Menuang Syarah

Tadi malam selama 4 jam, empat pendekar (mas Fauzi, Iskandar, Jahe, dan Ibnu) dari perguruan @rumahpeneleh menggelar bedah buku sejarah pemikiran HOS Tjokroaminoto di rumahnya (Jang Oetama) sendiri. Menuang karya mereka sebagai refleksi dan resolusi gerakan membangun peradaban yang didamba. Sebuah karya apik, mengulik sejarah dan menemukan relevansi kekinian. 

Melempar paparan dengan argumentasi yang memikat dengan suara parau batuk tidak menyurutkan suasana diskusi menggema. Tentang ragam latar yang memantik pemikiran transformatif perjuangan Guru Bangsa sebagai pribadi, ideolog,dan organisatoris. Mulai dari syarah Islam dan sosialisme, Memeriksai alam kebenaran, hingga Reglement/wasiat untuk umat. Kegalauan yang mencerna gerakan untuk sebuah cita kemerdekaan Hindia Belanda. 

Tentu kupasan kulit bawang tidak melulu sebagai produk pemikiran ansich, namun aksi nyata membangun kesadaran melalui organisasi. Ragam pilihan strategi evolutif yang kooperatif menyasar kalangan kromo, pemuda, ulama, pedagang dan bahkan musuh bersama yaitu pemuja komunisme dan kolonialisme. Bineka persuasi melalui pergerakan, perdagangan, agama dan budaya menjadi kearifan lokal warga pribumi dalam membumikan tatanan peradaban. Dan relevansi sejarah dan kekinian menjadi ranah temuan benang emas diskusi antar entitas yang bergayung sambut gempita. Boleh jadi masih menyisakan ruang tanya, perdebatan atau gugatan sebagai dinamika dialektis. Lumrah. 

Bila toh perjuangan pada akhirnya adalah klimaks perayaan kegundahan yang tak berkesudahan dan kematian; sejatinya semangat dan sejarahnya adalah pengakuan pada perjuangan dan kehidupan yang semestinya. Sebab Indonesia adalah milik kita bukan hegemoni liyan, sebagai cuilan surga yang dihadiahkan Tuhan di bumi Nusantara, yang bermanfaat bagi semesta. [Nashrudin Latif, Aktivis Peneleh Surabaya]



source: pinterest.com

Berada di ruang dan posisi ini, mungkin sudah menjadi takdirmu.
Tapi jendela mana yang ingin kamu lihat, itu pilihanmu.

Dunia terlalu luas untuk kamu penuhi dengan dahaga dan keresahanmu,
Pilih dengan segera siapa yang mau kamu bahagiakan.

Tuhan begitu elok,
Ia mampu mengingatkan manusia dari berbagai celah. Termasuk mengingatkanmu..
Coba kamu diam, perhatikan, dan dengar.
Mungkin ada pesan yang ingin Tuhan sampaikan perlahan

eaeyopia

by on Desember 18, 2019
source: pinterest.com Berada di ruang dan posisi ini, mungkin sudah menjadi takdirmu. Tapi jendela mana yang ingin kamu lihat, itu pi...

pernah nggak kamu bercerita ?
tentang bunga yang mekar di halaman sebelah
tentang rumput yang hijau di seberang rumah
tentang tanah yang subur di luar jendela
kadang mereka tampak baik-baik saja
ya kan ?

aku iri, dengan mereka
dengan mereka yang merasa baik-baik saja
dengan mereka yang tumbuh mekar dengan indah
dengan mereka yang menghijau dengan mudah
dengan mereka yang subur gembur dengan sempurna
sedangkan kotakku belum tertutup sempurna
merajut menutup dengan sangat pelan sampai aku tak bisa lupa

rindang, aku rindu dengan kerindangan
aku rindu dengan kesejukan
aku rindu dengan wewangian
aku rindu dengan kenyamanan

aku rindu yang sebenarnya hilang..
satu kotak tentang siapa dan dimana aku telah berjuang

Alumni penerima beasiswa LPDP bersama dengan awardee dan beberapa komunitas pemuda di Jawa Timur telah menyelenggarakan acara "Capacity Building 2019". Acara tersebut diselenggarakan dengan tujuan mempersiapkan para alumni penerima beasiswa LPDP sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Tidak hanya itu, acara tersebut merupakan kolaborasi dengan pemerintahan Jawa Timur sebagai proses pemberdayaan para alumni untuk kembali kepada masyarakat.

Acara berlangsung pada tanggal 30 November 2019. Berlokasi di Auditorium G6 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya dengan mengambil tema besar "Collaboration: Innovative Technologi Application in Developing Region". Acara tesebut dihadiri oleh awardee dan alumni penerima beasiswa LPDP Jawa Timur baik dalam maupun luar negeri, kemudian dihadiri oleh Bapak Kamaluddin selaku pihak LPDP, Bapak Syamsu Duha selaku founder aplikasi "Smart Desa", dan juga beberapa komunitas pemuda di Jawa Timur seperti Forum Indonesia Muda (FIM) dan Gerakan Menulis Harapan.

Pada kesempatan kali, Bapak Kamaluddin memberikan sambutan selaku pihak LPDP sekaligus membuka acara tersebut. Beliau berharap acara kali ini dapat menjadi wadah kolaborasi dan kerjasama antar awardee, alumni, masyarakat, dan juga pemerintah untuk memberikan motivasi, inovasi dan teknologi tepat guna untuk daya saing di pedesaan Jawa Timur.

Acara diawali dengan materi dari Bapak Syamsu selaku founder "Smart Desa". Kemudian dilanjutkan materi dari beberapa komunitas pemuda di Jawa Timur. Setelah materi disampaikan secara tuntas, para peserta melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan membagi seluruh jumlah peserta menjadi tujuh kelompok. Masing-masing kelompok harus memberikan dan menyusun ide serta motivasi baru yang bisa di sumbangkan dan diterapkan di desa-desa Jawa Timur. Dengan harapan setelah acara berakhir, para alumni penerima beasiswa LPDP bisa bekerja sama dan berkolaborasi dengan pemerintahan desa untuk pengembangan desa dari masing-masing ilmu yang diperoleh selama studi.

---------------------

Mengutip dari salah satu pembicara pada acara tersebut, Bapak Syamsu Duha, pemuda asal Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang yang sukses memberikan inovasi baru kepada pemerintahan desa serta masyarakat mengenai trobosan pelayanan berbasis andorid;

"Wahai pemuda, ingatlah, idemu boleh ditiru, tapi rezekimu tidak akan pernah keliru. Maka teruslah berkarya dan berusaha sebab pemuda adalah mereka yang tak pernah lelah melakukan inovasi dan perubahan"

Mari memajukan Indonesia dari hal yang paling kecil !
Indonesia, Aku Pasti Mengabdi  




Terimakasih telah membawaku menuju ruang yang tidak ku sangka sebelumnya :)

Mengikuti dunia ke-Relawanan itu asik loh !
Seolah-olah kita diajarkan untuk menanam tanpa mencari benih. Tinggal tunggu berbuah kemudian kita nikmati rasa manis dari yang sudah kita tanam. 

Flashback boleh lahya,
Tahun 2017 menurutku adalah tahun sakral. Lulus menjadi sarjana dan entah selanjutnya bagaimana. Meskipun gambaran cita-cita sudah penuh di halaman buku harian, tapi tetap saja.. seperti masih kurang untuk meyakinkan bahwa saat itu aku harus berusaha memenuhinya. 

Ternyata target melanjutkan belajar sampai jenjang S-2 sudah tercatat sejak Tahun 2015. Karena aku harus memulai harapan masa depan yang sudah ku tulis, aku coba lah mencari tahu tentang Beasiswa S2 Dalam Negeri. Bidikan pertama langsung Beasiswa LPDP. Secara, itu adalah bintang kejora di atas bayang-bayang kepala ku sejak semester 4. Oke mulai saat itu aku langsung kepo dengan segala persyaratannya.. 

Ternyata tidak cuma mental yang harus di persiapkan guys haha tapi seambrek tumpukan berkas yang wajib dimiliki oleh pendaftar beasiswa. Tidak putus asa, aku mencari jalan keluar. Salah satu berkas yang paaaaling lama aku dapatkan ialah score TOEFL. Aku terpaksa harus tes sampai empat kali loooh, demi target score buat jalur reguler LPDP :') kurang greget piye le huhu

Nah, di sela-sela aku belajar TOEFL aku mencoba mengikuti beberapa kegiatan ke-Relawanan. Salah satunya ialah Daya Muda. Emang dasarnya sih dari semester dua perkuliahan sudah aktif di berbagai organisasi intra maupun ekstra kampus. Jadi emang tipe orang yang gak bisa diem !
Awalnya aku tertarik dengan Komunitas Daya Muda karena fokus pengabdiannya di bidang pendidikan anak usia sekolah dasar. Komunitas tersebut melibatkan daya atau tenaga dari para pemuda. Jadi hatiku langsung tertarik gitu looooh guys, paham kaan :)

Yasudaah ku telateni ikut beberapa acara yang diselenggarakan oleh komunitas tersebut. Kegiatannya berupa menyumbangkan donasi, pengabdian dengan cara membantu membekali adik-adik sekolah dasar dengan keterampilan belajar, motivasi agar dapat menumbuhkan rasa percaya diri, serta studi pendidikan di wilayah terpencil di Jawa Timur. Beberapa wilayah yang sudah pernah dikunjungi oleh Komunitas Daya Muda adalah SDN Ngadirenggo Blitar, SDN Jipurapah 2 dan SDN Pojok Klitih Jombang, SDN Ranupani Lumajang, dan kegiatan selanjutnya akan berada di SDN yang berlokasi di kaki Gunung Kawi Malang. Supeeeeerrr ga sabar !

Selain itu, aku juga mendaftar menjadi Aktivis Muda yang diadakan oleh Yayasan Rumah Peneleh. Aktivis Muda Peneleh mampu memberiku wadah dalam bersatu melakukan pergerakan yang bermanfaat bagi indonesia. Pada bulan Februari dan Mei 2018 beberapa aktivis muda melaksanakan kegiatan Peneleh Youth Volunteer Camp (PYVC) 1 dan 2 di desa Taji Kab. Malang. Kegiatan PYVC ini memiliki tiga konsep yakni pemberdayaan, study, dan wisata yang melibatkan beberapa mahasiswa dan pemuda guna membantu menemukan dan mengeksplor potensi alam, wisata, budaya untuk membantu menciptakan peluang ekonomi yang ada di desa tersebut. Aku dan rekan-rekan lainnya mengunjungi beberapa tempat yang memiliki potensi wisata di desa Taji. Selanjutnya kami berdiskusi, mendesain dan mempublikasikan potensi wisata tersebut seperti coban yang masih belum terjamah wisatawan, kualitas kopi asli dari petani kopi desa Taji, petik apel dan tari topeng yang masih menjadi ciri khas kota Malang. Seeeeru pokoknya !

Nah, dari beberapa kegiatan sosial tersebut, aku bisa belajar buat surviveaware dengan kondisi sekitar, dan lebih paham kalau berbagi kebermanfaatan itu penting dan ternyata sangat menyenangkan.

Yang paling penting nih, kegiatan sosial berupa ke-Relawanan juga mempermudah jalanku pada saat mendaftar Beasiswa LPDP. Pada tahap awal, saat pendaftaran online aku harus unggah semua sertifikat dan pengalaman yang pernah ku dapatkan. Alhamdulillah dengan mengikuti berbagai kegiatan baik dikampus maupun luar kampus memudahkan aku untuk mengisi data diri dan juga menceritakan kisahku didalam essay sebagai syarat administrasi. 

Eits tidak berhenti disitu, pada saat aku dinyatakan lolos seleksi Beasiswa LPDP tahap satu dan dua, aku harus melanjutkan ke tahap tiga yakni wawancara. Salah satu kriteria yang diinginkan LPDP adalah mereka yang peduli dengan Indonesia. Mereka yang sudah, sedang, dan akan berkontribusi untuk Indonesia. Termasuk beberapa pertanyaan yang terkait dengan pengabdian, aku dengan mudah menjawab kontribusi dan kegiatan-kegiatan yang sudah kulakukan yakni mengikuti beberapa kegiatan ke-Relawanan pada Daya Muda dan juga Aktivis Peneleh. Bisa dibilang jadi poin plus pada seleksi Beasiswa LPDP sih ya :)

Ada rasa syukur dan lega ketika aku bisa berbagi daya, fikiran, tenaga, waktu, dan yang lainnya.. Untuk kemudahanku pada saat menceritakan kontribusi ataupun bentuk pengabdian di tahapan seleksi beasiswa, menurutku itu sebagian kado dan hikmah kecil dari Allah. Alhamdulillaaaah, sangat indah.. 

Jadi, untuk kalian yang sekarang aktif di berbagai kegiatan kampus atau luar kampus, jangan berhenti sebelum memang sudah masa domisioner hahaha apalagi yang sudah menjadi relawan/volunteer di berbagai kegiatan sosial, lanjutkan saja dengan riang gembira. InsyaAllah banyak hikmah yang bisa kalian dapatkan. Aku yakin, disaat kita ikhlas membantu sesama, pasti kelak kita pun juga dipermudah dan dibantu oleh Allah dalam melancarkan segala harapan dan cita-cita yang kita perjuangkan. 

The last sweet qwt:
"Memang tidak ada teori yang menyebutkan dan menjamin masa depan pemuda aktivis pasti akan mapan, tapi sebagai seorang intelek aktivis adalah pilihan, adalah pemikir, pelopor, penggerak, pembawa perubahan dan turun langsung menikmati kenyataan yang sebenarnya demi indonesia yang lebih baik"

Kegiatan Daya Muda di Lumajang

Peneleh Youth Volunteer Camp I

Peneleh Youth Volunteer Camp II

Generasi masa depan, bukankah aset bangsa yang paling berharga?

Kembali, kami menengok sisi ruang lingkup yang berbeda. Pojok desa di timur jawa, tepatnya di Desa Ranupani Kec. Senduro Kab. Lumajang. Komunitas Daya Muda bergotong royong mengunjungi salah satu SDN yang berada di ujung gunung dan masih jauh dari kecukupan fasilitas untuk proses mereka belajar.

Kedatangan kami disambut dengan sangat baik oleh pihak sekolah khususnya Pak Imam Chodri selaku kepala sekolah SDN Ranupani. Begitu juga dengan masyarakat sekitar. Mereka antusias membantu kelancaran acara kami. Tempat tinggal dan juga kebiasaan jamuan bagi tamu yang mereka berikan benar-benar istimewa. Hal unik yang ada di desa tersebut adalah letak kursi tamu yang justru berada di belakang bagian rumah, mereka menyebutnya pawonan. Karena suhu yang terlalu dingin membuat setiap tamu langsung diarahkan ke tungku api yang berada di dapur rumah.

Kegiatan kami berlangsung selama dua hari. Hari pertama (23/11) kami mulai dengan perkenalan dan dilanjutkan dengan beberapa permainan dan perlombaan. Kami bermain boneka jari, tebak gambar, puzzle Daya Muda, dan juga origami. Semangat dan rasa ingin tau dari mereka sangat besar. Sampai menjelang sore pun masih ramai di lingkungan sekolah. Malam harinya kami isi dengan kegiatan upacara api unggun dengan pembacaan dasa darma pramuka dan juga trisatya oleh adik-adik kelas 4-6. Upacara berlangsung dengan tertib dan khidmat. Hari pertama kami akhiri dengan evaluasi dan juga briefing untuk kegiatan pada esok harinya.

Outbound di Ranupani
Minggu (24/11) tepat pada hari kedua, kami berkumpul kembali dihalaman sekolah. Kegiatan diawali dengan senam pagi kemudian outbound yang berlokasi di danau Ranupani. Dengan pemandangan yang sangat menakjubkan, lekukan indah dan tajam dari ranting pepohonan Gunung Semeru, seolah menggambarkan semangat adik-adik dan juga relawan Daya Muda. Bahkan terik matahari pun kalah dengan hangatnya suasana outbound pada siang hari itu. Berbagai yel-yel penyemangat kami suarakan dengan lantang. Subhanallahh, rasa senang dan bangga melihat mereka tertawa lepas dengan beribu harapan masa depan di kedua mata yang nampak cerah. Outbound berakhir dengan meriah, apalagi pada saat pembagian hadiah, super seru ! Heran, tidak sedikitpun ada rasa lelah dari wajah mereka.

Menjelang sore hari, kegiatan pengabdian kami tutup dengan diskusi ringan, kebetulan pada saat itu Desa Ranupani juga kedatangan relawan dari Gerakan Diri. Komunitas yang juga melakukan pengabdian namun orientasinya untuk pendekatan kepada warga masyarakat dan memberikan edukasi mengenai pentingnya pendidikan bagi putra-putri warga setempat. Kami saling berdiskusi dan bertukar pengalaman mengenai komunitas masing-masing. Alhamdulillah sambung seduluran :)

Setelah acara kami berakhir, seketika itu juga banyak teguran yang datang pada jiwa kami. Ketika dihadapkan dengan mereka, adik-adik yang tidak setiap saat bisa memperoleh fasilitas yang layak. Mereka masih membutuhkan saluran semangat untuk menggapai cita-citanya. Seolah kami terpanggil untuk membersamai mereka dalam menyusun harapan dengan cakrawala yang lebih luas. Semangat mereka sangat besar untuk memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Namun lagi-lagi mereka dihadapkan dengan kondisi dimana fasilitas sekolah yang masih kurang dan juga sumber daya pengajar yang berasal dari luar kota dan harus menempuh perjalanan jauh jika akan mengajar, belum lagi dengan kondisi cuaca yang sangat dingin mencapai 7°C setiap pagi hari.

Selain itu, orang tua mereka pun dirasa masih kurang dalam motivasi tentang pentingnya belajar bagi putra-putrinya. Sebagian besar dari putra-putri mereka harus menikah setelah lulus sekolah pada jenjang SMP dan kembali membantu bercocok tanam di lahan mereka masing-masing. Sehingga tidak heran jika semangat mereka untuk melanjutkan jenjang belajar pun juga menurun.

Melihat kondisi seperti itu, generasi muda memang sudah seharusnya merasa terpanggil. Menjadi hal yang sangat serius jika pemuda masih enggan untuk andil dalam membantu mempersiapkan generasi masa depan yang akan menjadi aset utama negeri ini. Terlebih tentang masa depan pendidikan mereka yang harus selalu dirangkul agar dapat melahirkan bibit emas untuk  Indonesia.

Pemuda yang mempunyai bekal daya berupa bakat, fikir, waktu, semangat, niat, dan lainnya punya peran penting dalam pendidikan anak usia sekolah dasar di berbagai wilayah terpencil di Indonesia. Membekali mereka dengan keterampilan belajar, memberikan motivasi agar dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang lebih baik, dan yang paling utama mengajak mereka agar dapat merasakan asiknya belajar layaknya teman sebaya mereka yang lebih beruntung dalam proses belajarnya..

ps Aristoteles :
Akar dari pendidikan itu pahit, tapi akan berbuah manis. 
Pendidikan itu diusahakan, tidak dengan kenyamanan atau kemudahan. Namun dengan perjuangan yang penuh keringat dan banyak sakitnya. Akan tetapi ketika berbuah, maka banyak kenikmatan generasi muda yang manis akhlaq, laku, dan juga ilmunya. 


-Muda Berdaya bersama Daya Muda-
Relawan Daya Muda
Kami ucapkan terimakasih kepada:
Seluruh Bapak/Ibu guru SDN Ranupani
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)
Relawan Daya Muda
Relawan Gerakan Diri
Masyarakat Desa Ranupani, Mas Daim, Ibu Minik, Mas Edi, Mas Roni, Mbak Kartini, Mas Andika, Mas Wagiman. Tanpa kalian kami semua pasti kaku beku dimalam hari :')

Kediri, 26 Oktober 2019

Forum Mahasiswa Bidik Misi (FMBM) IAIN Kediri mengadakan Talkshow Beasiswa LPDP S2, S3 Dalam dan Luar Negeri. Acara berlangsung di gedung Rektorat lt.4 IAIN Kediri. Narasumber dari kegiatan tersebut berasal dari awardee LPDP Afirmasi Santri angkatan pertama di tahun 2019. Mereka adalah Royyan Faradis (S-2 Kimia ITS), Ana Yulvia (S-2 Kimia ITB), Abdul Hafidz Izzudin (S-2 MBA UGM), Moch. Tatlihin Aljabar (S-2 Pend. Non Formal UM), Muhammad Lutfi (S-3 MPI UIN Malang).

Talkshow dihadiri oleh mahasiswa akhir penerima beasiswa bidikmisi dan juga santri di sekitar kampus di kediri. Beberapa kampus yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut ialah IAIN Kediri, UNP kediri, Universitas Negeri Malang, IAIN Madura, IAIN Tulungagung. Para peserta sangat antusias mendengarkan materi talkshow, dengan moderator saudara Ali Musyafa' Ahmad, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab IAIN Kediri. Mereka juga aktif bertanya pada sesi akhir. Tidak hanya itu, mereka secara cepat membuat grup daring sebagai sarana diskusi persiapan pendaftaran beasiswa LPDP yang akan datang.

Lokasi: IAIN Kediri
Selanjutnya, menjalang malam hari, kegiatan Talkshow kedua dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Ma'ruf Kediri. Kedatangan kami disambut sangat baik dengan pihak ndalem pondok pesantren. KH. Imam Yahya Malik selaku pengasuh ponpes mempunyai harapan bahwa santri-santrinya harus menjadi orang yang bermanfaat dikemudian hari dan juga dapat melanjutkan pendidikan yang lebih mulia. Kegiatan talkshow ini sebagai salah satu jembatan bagi santri agar mengetahui informasi mengenai beasiswa dalam maupun luar negeri.

Lokasi: Pondok Al-Ma'ruf

Para peserta sangat tertarik dengan informasi yang kami berikan. Hal tersebut terlihat dari jumlah santriwan dan santriwati yang memenuhi aula yang digunakan pada acara talkshow kali ini. Diakhir sesi talkshow dilakukan diskusi bersama, topik yang menjadi hangat ketika kami membahas tentang sertifikat bahasa asing yang menjadi syarat mutlak proses administrasi. Mereka merasa minder dengan kemampuan berbahasa asingnya, namun semangatnya tumbuh kembali ketika kami menceritakan pengalaman kami masing-masing dalam mengejar score bahasa asing tersebut. Selain itu kami juga memberikan tips dan trik lolos dalam seluruh rangkaian proses seleksi beasiswa LPDP.

Harapan kami dalam kegiatan talkshow kali ini dapat membantu memberikan informasi mengenai beasiswa LPDP secara gamblang. Sehingga para peserta dapat mempersiapkan segala persyaratan untuk mendaftar beasiswa LPDP sejak awal. Kami sebagai seorang santri percaya kepada mereka, bahwa mahasiswa serta santri di kampus-kampus Kediri juga mampu mendapatkannya. Asalkan niat dan bersungguh-sungguh. Terlebih mendapat ridho dari Kyai. InsyaAllah dipermudah segala prosesnya. Semoga berhasil adik-adikku !

Indonesia, Aku Pasti Mengabdi !


Surabaya. 25 Oktober 2019

Organization for Women in Science for The Developing World (OWSD) Indonesian Chapter yang bekerja sama dengan Natural Product and Shynthesis Chemistry (NPSC) Laboratory ITS mengadakan kegiatan Scientist Goes to School 2019 dengan tema "Jamu as Indonesian Heritage". Kegiatan tersebut berlangsung di SMPN 19 Surabaya dan dihadiri oleh siswa-siswi, guru dan juga karyawan dari sekolahan tersebut. 

Sri Fatmawati, S.Si., M.Sc., P.hD selaku presiden OWSD mengatakan bahwa Local Wisdom is Your Legacy yang berarti kearifan lokal di Indonesia adalah warisan yang harus kita pertahankan. Salah satunya adalah mempertahankan jamu di zaman sekarang. Melalui acara tersebut, diharapkan para saintis muda dapat memberikan edukasi tentang ilmu sains dan teknologi kepada para siswa dan mengembangkan kerjasama pendidikan antara sekolah, kampus, dan juga OWSD-Indonesia. 

Narasumber pada kegiatan tersebut merupakan anggota dari OWS-Indonesia yang mempunyai pendidikan dari jenjang magister, doktoral, sampai dengan profesor di bidang Kimia Bahan Alam. Antusias dari para peserta dari kegiatan tersebut ditunjukkan pada saat proses sosialisasi. Berbagai pertanyaan mereka ajukan, terutama tentang ketertarikan mereka pada kandungan dan khasiat jamu yang sangat melimpah. Tidak hanya itu, Kepala Sekolah SMPN 19 Surabaya, Drs. Shahibur Rachman, M.Pd menyambut dengan baik kegiatan kali ini. Beliau mengatakan bahwa kegiatan tersebut selaras dengan salah satu program dari sekolah yang mengangkat warisan dan budaya Indonesia. 

Kegiatan tersebut tidak hanya berhenti pada sosialisasi mengenai Jamu, namun tepat satu hari setelah peringatan Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 29 Oktober 2019 akan berlangsung kegiatan minum jamu bersama 1400 pelajar SMPN 19 Surabaya. Minum Jamu secara serentak akan dilaksanakan di halaman sekolah dan diliput oleh media Metro TV dan juga She Radio. 

Ibu Fatmawati berharap dengan adanya kegiatan tersebut dapat meningkatkan kecintaan dan rasa bangga dari generasi muda Indonesia pada keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia, serta rasa percaya diri dan semangat dalam mempelajari ilmu sains yang berada dekat di sekitar kita. 

Mari kita genggam dunia dengan jamu ! 

Sosialisasi jamu dengan kelas 8J SMPN 19 Surabaya


Pict Source: Pinterest

Setiap pagi selalu ada teh diatas meja, menyapa mentari yang sinarnya tak pernah terlihat lelah.
Tali sepatu yang sangat usang, selalu menemani melangkah. Mencari tujuan masa depan yang entah berada di sudut mana. Sapaan dan ucapan selamat pagi selalu nampak ketika membuka pintu menuju halaman rumah. Hal tersebut sentak tiba-tiba menjadi hening, ketika beberapa piring terjatuh ke lantai. Nampaknya suara piring pecah berasal dari dapur rumah. Ditengoknya kebelakang, ternyata hanyalah bayangan suara yang tidak nyata.

Ia seolah terlihat jelas sebagai tanda, bahwa pagi akan berubah. Tanpa ucapan selamat pagi seperti dahulu kala. Kau, yang tegar berdiri tegak seolah menjadi maya ketika merasakan bayangan perasaan. Kau, yang siap melangkah maju seketika menjadi layu ketika udara pagi menyapa sembilu.

Tidak ada pilihan nyata ketika keadaan berubah tidak seperti biasa. Hanya rasa pasrah dalam melangkah. Rindangnya lantunan dan untaian permohonan selalu menjadi kado di setiap malam menutup dirinya. Tetap dengan harapan yang sama. Yakin langkah yang akan terlihat cerah selalu menjadi cara ketika bayangan berusaha hadir di pelupuk mata. Letakkan rasa lillah agar kau mudah bangkit menggapai asa. Tidak ada daya dan upaya selain rangkulan yang maha kuasa.

Doaku pagi ini, semoga cerita kau dan semesta dapat menjadi doa dan pelajaran yang sangat berharga.

Menjadi Maya

by on Oktober 22, 2019
Pict Source: Pinterest Setiap pagi selalu ada teh diatas meja, menyapa mentari yang sinarnya tak pernah terlihat lelah. Tali sepatu ya...


Surabaya, 16-17 Oktober 2019

Telah dilaksanakan kegiatan International Conference & Call for Papers dengan tema Religious and Cultural Paradox in Social, Economic, and Business Sciences (INCRECS 2019). Acara tersebut diorganisasi oleh Yayasan Rumah Peneleh dan Aliansi Pengelola Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam. 

Acara tersebut dihadiri berbagai Keynote Speaker antara lain Dr. Tjokorda Gde Raka Sukawati (Hindu Culturalist, Indonesia), Prof. Dr. Gatot D. H, Wibowo (Mahaguru of Sembalun Culture East Lombok), Zawawi Imron (National Poet, Indonesia), KH. Marzuki Mustamar (Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim), Dr. Yogi Simhanath (spiritualist Nepal), Prof. Evangelos Afendras (Academics, Greece), Dr. Pallavi Pathak (Academics, India), dan Dr. Mohd. Shukri Hanapi (Academics, Malaysia).

Konferensi Internasional dibuka langsung oleh Dr. Aji Dedi Mulawarman, Sp., SE., MSA selaku Ketua Yayasan Rumah Peneleh. Beliau menyampaikan bahwa saat ini tujuan pendidikan hanya sebatas memenuhi kebutuhan tenaga industri, belum dapat mengarahkan kepada tujuan pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan yang sebenarnya seharusnya mampu menciptakan manusia yang kenal dengan tuhannya dan memahami perannya sebagai khalifah fil 'ard. Tidak lupa sambuan tersebut ditutup dengan puisi tentang hakikat kesucian cinta dari manusia sejati.

Pada kesempatan tersebut, Yayasan Rumah Peneleh juga mengenalkan kepada peserta INCRECS tentang rencana pembangunan Universitas Rumah Peneleh (URuP). Perguruan Tinggi berlokasi di Kabupaten Malang, yang berintegritas sebagai jembatan negeri untuk membentuk peradaban utama berbasis nilai-nilai religiositas, kemandirian, dan kebangsaan dengan menjaga sustainabilitas semesta. Kampus penggerak hijrah dengan inspirasi dari gagasan bapak ideologis dari para pendiri bangsa, HOS Tjokroaminoto. 

Dr. Ari Kamayanti, SE., MM., MSA.,Ak.CA selaku Koordinator Rumah Kader Jang Oetama juga menyampaikan bahwa URIP iku URuP yang berarti Hidup itu menyala, Hidup itu hendaknya memberikan manfaat dan mampu menyalakan bara semangat.

Peneleh, Zelfbestuur Aksi ! 

Panitia INCRECS 2019 bersama:
 Dr. Yogi Simhannath, Spiritualist Nepal dan KH. Marzuki Mustamar, Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim 


Disana, 
Rindang dedaunan dan bising perkotaan
Kadang membuat lupa dengan yang alam berikan 
Daun yang mulai lelah 
Ranting yang mulai payah 
Akar yang mulai menua
Seakan terasa bahwa angin telah bosan menyapa 
Jangan lupa, 
Bahwa mereka selalu nyata 
Bahwa hujan selalu setia 
Bahwa kemarau selalu tiba
Yang kita ingat hanya tertawa dan tamasya 
Menghilang dari kondisi yang sebenarnya
Kata ibu, jangan seperti itu
Jika kau lelah dan lengah
Kembalilah kerumah
Jangan kau malah hilang entah kemana
Kumpulkan sisa cerita yang bisa kau bawa ke kota
Agar pagimu tidak sepi 
Dan malammu tidak berhembus lirih

Surabaya, Oktober 2019

Kembali setelah Lupa

by on Oktober 12, 2019
Disana,  Rindang dedaunan dan bising perkotaan Kadang membuat lupa dengan yang alam berikan  Daun yang mulai lelah  Ranting yang ...
Joseph John Thomson; Penemu Elektron
Perkuliahan kali ini membahas mengenai elektron yang seolah-olah mempunyai akal. 

Bertempat di Departemen Kimia J116, Dr. Lukman Atmaja, Ph.D mengisi kuliah Spektroskopi Fasa Padat. Beliau menerangkan teori Uraian Mekanika Kuantum untuk Absorbsi Daerah Tampak. 

Salah satu isi slide perkuliahannya mengatakan: Kuat tidaknya suatu proses absorbsi ditentukan oleh probabilitas laju transisi dari keadaan dasar, i, menuju keadaan terkesitasi, f. Probabilitas tersebut setara dengan jumlah kuadrat dari unsur matriks H′fi(0) dimana H′ adalah operator gangguan yang menyebabkan transisi tersebut dapat berlangsung.

Begitu juga dengan serapan dari extended states pada semikonduktor. Elektron pada pita valensi dapat mengalami transisi ke pita konduksi jika mendapatkan energi yang cocok dan sesuai dengan besarnya energi celah pita (band gap) yang dimiliki. 

Dari kedua pernyataan tersebut dapat di pahami bahwa elektron akan mudah bergerak atau mengalami eksitasi jika ia mendapat gangguan dari luar dengan besaran energi tertentu yang dibutuhkan. Elektron seolah-olah seperti manusia yang mempunyai akal. Manusia mempunyai saraf sensorik dan motorik yang menghasilkan suatu rangsangan sehingga jika dikenai gangguan dari luar maka gerak reflek yang ada di tubuh dengan sendirinya akan bereaksi. 

Hal tersebut kemudian diterangkan oleh Dr. Lukman bahwa dalam Sains Modern, banyak fenomena yang tidak bisa dijelaskan oleh Rasionalisme, Empirisme, dan Pragmatisme. Misalnya adanya partikel anti-material, dualisme sinar, elektron yang nampak seperti mempunyai akal, dan yang lainnya. 

Oleh karena itu, sebagian Saintis Modern akhirnya mencoba mencari penjelasan lain, yang berarti ada realitas baru yang memerlukan supra-logical order, yang memerlukan penjelasan dengan metode lain selain Scientific Method. Harapannya agar pemahaman yang diperoleh dapat sampai ke realitas yang sesungguhnya. 




Jamiyyah Da’wah Wal Faan Al-Islami (JDFI) adalah Unit Pengembangan Kreativitas Mahasantri yang berada di bawah naungan Ma’had Sunan Ampel Al-Aly Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Jamiyyah tersebut merupakan organisasi yang berorientasi pada aspirasi, minat, bakat, dan kreativitas para Musyrif/Musyrifah dan Mahasantri UIN Maliki Malang.

Salah satu divisi kesenian dari JDFI adalah Divisi Sholawat Kontemporer. Divisi tersebut mewadahi kreativitas bermusik para mahasantri. Sholawat Kontemporer memadukan antara alat musik tradisional dan modern. Salah satu alat musik khas yang kami gunakan adalah peking, sebuah alat musik tradisional berupa gamelan jenis saron yang berasal dari Yogyakarta. Peking merupakan unsur wajib yang harus ada dan menjadi dasar acuan utama dalam menjadikan suatu aransemen musik yang akan dimainkan.  


Lambang Divisi Sholawat Kontemporer di tulis langsung oleh Emha Ainun Nadjib atau biasa di sebut Cak Nun. Yang selanjutnya kami menyebut grup Sholawat Kontemporer ini dengan sebutan Maika (Maiyah Kampus). Konsep segitiga menggambarkan bahwa seluruh aspek yang ada dibungkus dengan pertalian cinta segitiga antara Allah, Nabi Muhammad, dan Maiyah (kita). Konsep inilah yang menjadi dasar bahwa maiyah yang dikenalkan oleh Cak Nun dan Kyai Kanjeng dapat berjalan dan berkembang  selama berpuluh-puluh tahun. Tidak lupa beliau juga mengatakan bahwa apa yang kita lakukan adalah siratun nubuwah yang berarti jalan kenabian. Oleh karena itu, menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW terus di tanamkan oleh Cak Nun kepada kami.

Sesekali kami diundang untuk bersilaturrahmi dan sinau bareng bersama maiyah se-Malang Raya. Salah satu acara rutinan yang kami hadiri adalah kajian Sirah Nabawiyah yang diisi oleh Cak Fuad (Saudara kandung Cak Nun) dan diskusi dengan tema “Belantara Kata tanpa Makna”. Acara tersebut berlangsung di Gedung KNPI, Jl. Kawi 24-C Malang pada 06 November 2018. Selain itu kami juga berkesempatan bersenandung bersama saudara-saudara Maiyah lainnya.

Maiyah Kampus mempunyai penampilan rutin secara akbar di setiap tahunnya. Yakni pada acara Malam Puncak (Muwadda’ah) Ma’had Sunan Ampel Al-Aly dan juga Pagelaran Maiyah di UIN Maliki Malang. Namun diluar dua kegiatan tersebut, kami juga sering memperoleh undangan tampil pada beberapa acara seperti resepsi pernikahan, pengajian umum, atau peringatan hari besar islam di beberapa desa bahkan sampai ke luar kota.

Beberapa lagu yang menjadi ciri khas kami adalah Bang-bang Wetan, Rojo Brono, Victory (An-Nabi), Cublak Suweng, Lir-ilir, Ya Thoiba, Ya Sayyidi, Tombo Ati dan yang lainnya. Sesekali diiringi oleh suara sinden yang menjadikan nuansa musik semakin mendayung-ndayung. Tentunya semua lagu tersebut di cover khusus oleh kami, Maiyah Kampus UIN Maliki Malang.


Tidak hanya itu, beberapa ajang kompetisi juga kami ikuti guna mengasah kemampuan bermusik yang sudah kami tekuni. Salah satunya adalah Festival Ramadhan Jawa Timur.

Bagi kami, bersholawat bukan sekedar menyalurkan bakat ataupun hobi. Tetapi bersholawat juga dapat memberikan ketenangan lahir dan batin dalam menjalani cerita kehidupan yang sudah di berikan. Salah satu semboyan yang selalu kami pegang adalah Ambekan karo sholawatan. Yang berarti disetiap kami bernafas, harus selalu diiringi dengan lantunan-lantunan sholawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua senantiasa diberikan syafaat hingga yaumil qiyamah. Amin..


Dengan Islam Aku Hidup, Dengan Seni Aku Bernafas


Suatu malam, sedikit sunyi
Rindang dalam angan
Sayup dalam harapan
Memupuk agar tetap seimbang
Merawat agar tetap dapat dikenang
Kita tidak akan pernah bisa tau
Bagian kisah mana yang akan dituju
Bahkan bagian kisah mana yang akan berakhir pilu
Tapi kita bisa bercerita tentang sendu

Kita pernah melewati hal yang sama
Saling bercerita dan melepas lelah
Saling berharap bahwa masa depan mereka akan indah
Dengan tiap dekapan yang nyata
Bahwa buah hati akan baik-baik saja
Selalu ikhlas dalam tawa

Tapi sekali lagi,
Kita tidak bisa menerka
Di titik mana garis hidup dan gemuruh nafas akan berhenti

Semua harapan yang kemarin kita ceritakan
Kita doakan agar terwujud perlahan
Meskipun nantinya kita tidak akan menyaksikan

Yang terpenting,
Semoga sedikit kehangatan yang tertanam
Dapat memeluk cahaya harapan
Agar dapat bersinar secara tenang
Sampai waktu yang ditentukan

*Remake2015, Paiton Probolinggo
Linda Dewi Purwanti, Alfaatiha 😔
Rangkaian Alat Sonikasi 
Metode sonikasi adalah proses kimia dengan menggunakan teknologi sonik atau suara pada frekuensi sangat tinggi (diatas 16 kHZ) yang disebut ultrasonik. Metode sonikasi mempunyai prinsip memanfaatkan gelombang ultrasonik dengan frekuensi sangat tinggi yang diiradiasikan ke dalam larutan dan terjadi tumbukan antar partikel penyusun larutan yang bertekanan tinggi. Proses adanya tumbukan pada partikel tersebut menyebabkan suhu yang sangat tinggi bisa mencapai 5000 K dengan laju pendinginan 1011 K/s dan juga terjadi fenomena kavitasi didalam medium tersebut. 


Gambar diatas mengilustrasikan pengecilan ukuran partikel akibat fenomena kavitasi. Fenomena kavitasi memanfaatkan gelombang ultasonik dengan frekuensi tinggi yang terpancar ke dalam larutan sehingga menyebabkan terjadinya pembentukan, pertumbuhan, dan pecahnya gelembung kecil yang bersisikan gas didalamnya. Apabila gelembung tumbuh sampai ukuran yang dihasilkan tidak stabil kemudian pecah yang diakibatkan oleh tekanan dan suhu yang tinggi maka akan menghasilkan energi kinetik yang besar yang selanjutnya berubah menjadi energi panas. Dari kejadian tersebut dapat menyebabkan terpecahnya partikel menjadi ukuran yang lebih kecil (nanopartikel). 

Fenomena kavitasi dalam metode sonikasi ini sangat menguntungkan khususnya bagi bidang sains dan kesehatan. Beberapa diantaranya adalah proses sintesis material semikonduktor, pemecahan protein pada DNA, ekstraksi beberapa senyawa dari tanaman atau mikroalga, dan juga pemurnian air limbah. Kavitasi dapat mempengaruhi beberapa hal, diantaranya adalah:
  1. Mengurangi waktu reaksi (Alavi, 2011)
  2. Mengurangi suhu dan tekanan pada saat bereaksi (Kalandragh, dkk., 2009)
  3. Memecah agregat kristal yang berukuran besar menjadi kecil berskala nano (Lestari, 2012)
  4. Pendistribusian ukuran partikel yang seragam
  5. Menghasilkan luas permukaan yang tinggi
  6. Meningkatkan kemurnian fasa (Widiyana, 2011 dan Suslick, 2010)

Pada proses sintesis material semikonduktor, fenomena kavitasi dalam metode sonikasi menjadi salah satu penentu keberhasilan sintesis tersebut. Karena jika dibandingkan dengan penggunaan metode konvensional seperti metode padatan, kopresipitasi, maupun hidrotermal hasil sintesis yang dihasilkan masih terdapat aglomerasi partikel dalam skala besar dan agregat dengan ukuran yang tidak beraturan.


Alavi, A. M., Morsali, A. 2011. Sonochemically Assisted Synthesis of ZnO Nanoparticles : A Novel Direct Method. Journal Chemistry Engineering, 30(3): 75–81.
Lestari, M. W., Hadi, S., dan Wahyuni, S. 2013. Sintesis dan Karakterisasi Nanokatalis CuO/TiO2 yang Diaplikasikan pada Proses Degradasi Limbah Fenol.  Indonesian Journal of Chemical Science, 2(2): 154-159.
Suslick,  K.S. dan  Price,  G.J. 1999. Application of Ultrasound to Material Chemistry. Annual Review of Materials Science, 29: 295–326.
Widiyana, Kasih. 2011. Penumbuhan Nanopartikel Seng Oksida (ZnO) yang disintesis dengan Metode Sonokimia dan Pemanfaatannya Sebagai Tinta Pengaman. Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negri Semarang.


Pagi ini di aula Gedung Robotika, Himpunan Mahasiswa Pascasarjana mengadakan studium general untuk Mahasiswa Baru Pascasarjana ITS 2019. Kegiatan tersebut disampaikan oleh Bapak Dr. Sonny Harry B. Harmadi, S.E, M.E. Beliau merupakan Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa, dan Kawasan Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Beberapa hari yang lalu Bapak Sonny melakukan diskusi dengan Kompas mengenai Sumber Daya Manusia yang unggul menjadi syarat Indonesia yang maju. Beliau mengatakan bahwa SDM yang unggul tidak hanya tinggi pendidikannya, tidak hanya sehat jasmani dan rohaninya, akan tetapi juga mereka yang berhati Indonesia. Yang mempunyai makna bahwa SDM yang unggul itu juga harus ikut memikirkan masa depan Bangsa Indonesia dari sudut manapun.

Pada saat ini jumlah penduduk Indonesia mencapai angka 266.911juta ribu jiwa per 31 Juli 2019 (Sumber: Proyeksi Penduduk hasil SUPAS 2015-2045). Pada saat Indonesia merdeka tahun 1945 jumlah penduduknya tidak sampai 60 juta jiwa. Artinya 74 tahun Negara kita merdeka, penduduk Indonesia bertambah lebih dari 200 juta ribu per tahun. Tentu dengan jumlah bertambahnya penduduk yang sangat pesat mempunyai tantangan yang sangat besar. Melalui liputan6.com, Bambang Brodjonegoro selaku Mentri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) mengatakan bahwa saat ini Indonesia masuk dalam Bonus Demografi yang artinya Indonesia mempunyai peluang besar untuk menjadi negara maju. Potensi tersebut sangat didukung dengan adanya jumlah tenaga kerja usia muda dan produktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil. Harapannya kita dapat mengalami loncatan kemajuan Bangsa.

Dikatakan bahwa 266.911 juta ribu jiwa di Indonesia, sebanyak 136 juta jiwa merupakan jumlah penduduk dengan usia produktif yang masuk dalam angkatan kerja. Namun sejumlah 40,51% (52,40 juta orang) tenaga kerja di Indonesia hanya lulusan Sekolah Dasar kebawah. Artinya hampir setengah dari jumlah penduduk Indonesia sulit mendapat tenaga kerja dengan kualifikasi ketrampilan dan keahlian yang cukup ditengah Revolusi Industri 4.0. Dimana digitalisasi sudah aktif dan tenaga kerja manusia sudah digantikan oleh berbagai alat. Tidak hanya itu, sekitar 3,7 juta per tahun penduduk Indonesia mampu menyelesaikan jenjang SLTA. Dari jumlah tersebut didapatkan 1,6 juta sedikit lebih banyak lulusan SMK jika dibandingkan dengan lulusan SMA. Diketahui per Bulan Februari 2019, tingkat pengangguran terbuka tertinggi sebesar 8,36% adalah lulusan SMK. Jika lulusan SMK kita besar, namun probabilitas kerja menurun maka akan terjadi penumpukan-penumpukan pengangguran dengan keterampilan SMK di Indonesia.

Melihat beberapa kasus tersebut, seharusnya tugas dari Mahasiswa Pascasarjana bukan hanya berfikir kritis, tapi harus berfikir secara analitis. Bukan hanya menemukan data bahwa pengangguran terbesar di dominasi oleh lulusan SMK, namun dapat menemukan dimana letak kesalahan yang dapat menyebabkan lulusan SMK di Indonesia mempunyai probabilitas untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih rendah.

Bapak Sonny juga mengatakan bahwa di Indonesia memiliki perkembangan lebih cepat dari pada kemampuan SDM nya dalam mempelajari dan mengelola perkembangan tersebut. Hal itu di contohkan pada proses pembelajaran pada jenis alat elektronik berupa televisi di dunia kejuruan. Pelajar pada sekolah SMK di beberapa daerah masih mempelajari komponen dan keilmuan dalam jenis televisi tabung, namun dunia nyata sudah memperbarui jenis dan kualitas tv yang lebih update berupa layar LCD, LED bahkan sampai Plasma.

Ketidak seimbangan kemampuan SDM dalam mengejar perubahan di Indonesia yang sangat cepat ini seharusnya dapat teratasi. Maka arah kebijakan pendidikan kedepan harus mampu menciptakan lulusan-lulusan yang mampu kerja aktif dan inovatif dalam perubahan yang terjadi di Indonesia. Kita juga tidak boleh melupakan konsep pembangunan SDM yang mempunyai tujuan membangun Indonesia menjadi tidak lagi langka dalam bidang pendidikan, pelayanan kesehatan, pangan dan juga bidang yang lain. Karena membangun daya saing masa depan Indonesia harus bersamaan dengan pembangunan SDM di dalamnya.

"Sebenarnya, era society 5.0 di Indonesia ini masih agak jauh. Walaupun baru beberapa negara yang mengalaminya, namun perubahan itu sangatlah cepat. Kita sebagai generasi masa depan harus mempersiakan dari sekarang". Kata Bapak Sonny kepada kami, Mahasiswa Baru Pascasarjana ITS. Revolusi Industri 4.0 dan era society 5.0 yang memberikan perubahan secara cepat dan signifikan di Indonesia tentunya akan memberikan dampak kepada pola hidup dan pola pikir manusia. Jika di era Revolusi Industri 4.0 semua serba digital, maka di era society 5.0 ini mengalami perubahan pola hidup manusia dalam kehidupan sosialnya. Dunia akan terkoneksi secara cepat dan kita akan semakin mudah dalam menggenggam berbagai informasi dari Negara manapun. Hal tersebut tentunya menjadi sebuah tantangan baru untuk Indonesia.

Dalam menyambut tantangan tersebut serta mempersiapkan perubahan yang terjadi secara cepat di Negara ini, Mahasiswa Pascasarana harus dapat berfikir secara analitis, dapat memecahkan masalah manajerial/struktural untuk jangka waktu yang panjang, dan membuat keputusan dengan pertimbangan outcome bukan output. Jika dulu pada saat Sarjana dapat menyerap ilmu di lingkungan kerja, maka Pascasarjana harus dapat memberikan ilmu dilingkungan kerja. Yang paling terpenting, Mahasiswa Pascasarjana harus menghasilkan karya yang solutif bagi permasalahan di Indonesia serta ikut andil dalam mempersiapkan dan menyambut perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat di Indonesia.

Pict Source : Compasiana.com 

"Rupanya liburan semester ini akan aku habiskan untuk bertemu dengan rekan-rekan ku di Jakarta aja deh, dari pada dirumah harus kena omel setiap aku main hp depan TV. Padahal aku lagi rapat online loh, kak". Begitu kiranya Andin berbicara di siang hari dengan saudara lelakinya, Dino. 

"Loh, kamu kan harus bantu jaga tokonya Ibu, Ndin?" sambil mengangkat salah satu karung yang berisi gula lima kilogram ke dalam toko. Rupanya si Andin mendapat satu jabatan baru dikampusnya. Ia sudah jarang melihat-lihat isi toko dan menanyakan stok yang tersisa kepada ibu atau saudaranya. Ia lebih sering pulang malam karena ada rapat dengan teman organisasinya dan akhir-akhir ini ia lebih cepat menggerakkan jemarinya dalam membalas pesan daring lewat hape bututnya itu. 

Kebetulan Andin adalah mahasiswa semester dua kampus ternama di kota Surabaya. Sebelum masa libur panjangnya tiba, ia mendapatkan undangan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampusnya untuk mengikuti diklat tahunan di kota dingin kaki Gunung Welirang, Mojokerto. Diklat tersebut hanya dihadiri oleh mahasiswa pilihan yang sudah direkomendasikan oleh tiap fakultas dari beberapa kampus besar se-Jawa, Bali dan NTB. Andin pun tak berfikir panjang untuk meng-iyakan isi dari undangan tersebut. Setelah menerima daftar nama yang akan hadir, ia rupanya tidak mengenal siapa pun kecuali tiga nama yang sudah tak asing dengannya. Ternyata mereka adalah teman Andin yang berasal dari Surabaya. Andin mengenalnya pada saat mengikuti acara seminar di kota pahlawan yang kebetulan satu meja dengan Icyan, Roni dan Lisa. Meskipun hanya sedikit yang Andin kenal, hal tersebut tidak menjadikan ia khawatir. Karena Andin tipikal mahasiswa yang mudah dalam beradaptasi dimanapun ia tinggal. Ia selalu merasa tertantang jika harus berkenalan dengan banyak orang di tempat barunya. Karena dia yakin bahwa pasti ada pelajaran yang berharga jika kita dapat memaknai suatu pertemuan dengan hati yang riang. 

***
Mulailah Andin berangkat ke lokasi dengan menaiki kereta dari Kota Surabaya. Kali ini ia berangkat sendiri karena teman yang lain sudah berada dilokasi sejak kemarin pagi. Di hari pertama, Andin merasa sedikit canggung namun ia merasa senang. Andin berdialog dan saling sapa dengan teman-teman barunya. Karena mereka dari ruang lingkup keilmuan yang berbeda-beda. Kehangatan di hari pertama sangatlah terasa. Sampai kami tak sadar jika sudah waktunya mendengarkan beberapa materi tentang kemandirian dalam bersikap dari salah satu dosen dari kampus UIN Jakarta. 

Kegiatan kami berjalan selama lima hari empat malam. Bisa dibayangkan betapa melekatnya kisah kami kelak ketika acara sudah berakhir. Karena dalam waktu hampir satu minggu kami di hadapkan dengan beberapa tugas dan materi yang harus kami selesaikan dan kami simpan rapat-rapat dalam memori yang tidak terlalu luas ini ehe. Diklat berisikan materi dari tokoh-tokoh penting di Jawa Timur. Beberapa materi berisi tentang menyiapkan generasi muda di masa depan menuju Indonesia gemilang. Singkat cerita, karena terlalu banyak rangkaian acara dan banyaknya teman yang harus kami sapa, Andin sampai lupa untuk menanyakan kabar ke-tiga teman yang ia kenal lebih dulu. Yah, mereka adalah teman-teman Andin yang berasal dari Surabaya.  

Di hari terakhir Andin melakukan farewell party yang sudah sangat lumrah dilakukan jika akan berpisah. Sikap Andin masih seperti biasanya, ia selalu jadi tempat bullying oleh beberapa kawannya. Karena kebetulan Andin adalah salah satu mahasiswa yang mendapatkan kategori terheboh dalam kelima hari rangkaian acara tersebut. Bahkan ia telah melupakan segala beban pikirannya pada saat acara berlangsung. Hanya karena ia ingin memberikan rasa bahagia tanpa terganggu oleh apapun di saat-saat terakhir mereka bertemu. Karena setelah ini mereka akan menjalani libur semester genap yang jaraknya cukup panjang. Ketika masuk kuliah pun mereka sudah harus menuju fakultas masing-masing dan bisa bertemu jika hanya ada acara tahunan yang diadakan oleh BEM di salah satu kampus mereka. 

Tidak berselang lama, karena sudah mendekati waktu untuk berpamitan, Andin merasa kurang puas jika belum bertemu ketiga temannya itu. Andin sempat merasa kehilangan, namun ia tetap mencoba untuk tidak memikirkan hal itu dalam-dalam. Akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya. Sepuluh menit pertama ia sudah berhasil menemukan dua temannya, Roni dan Lisa. Namun belum lega karena masih ada satu temannya lagi yang belum ia temui yaitu Icyan. Ketika Andin merasa lelah dan memutuskan untuk tidak memaksakan bertemu, si Icyan dengan gaya yang khas berada di ujung pintu yang akan Andin lewati. Spontan Andin berlari dan menemuinya.

"Hey, kamu lupa sama aku? kemana aja seminggu ini wkwkw yok minta maaf kan bentar lagi uda kelar acaranya" kata Andin dengan gaya lincahnya. 

"Ho iya kamu, aku di sini aja kali. Ya sama-sama. Sudah ambil coffee break, Ndin?" Jawab Icyan dengan gaya dinginnya. Begitu selesai saling bertegur sapa, Andin dan Icyan berpisah untuk kembali ke tempat masing-masing. Yah namanya teman, sekedar sapa gitu aja uda cukup heheh

***
Waktu menuju sore hari, dan penutupan acara telah usai. Kami, seluruh peserta sudah saling bersiap untuk kembali ke masing-masing kota asalnya. Lagi-lagi Andin harus berangkat pulang sendirian karena setelah penutupan diklat tersebut seluruh Mahasiswa akan menjalani masa libur semester genap. Hal tersebut yang membuat Andin memesan tiket pulang ke Surabaya. Tentunya dengan membawa kisah yang tak dapat ia lupakan. Beberapa kenangan membuat Andin sempat merenung sejenak di kereta. Mungkin Andin merasa bersyukur telah di berikan kesempatan mengikuti diklat yang tidak biasa dan di rekomendasikan langsung oleh fakultas tempat Andin menimba ilmu untuk sisa waktu tiga tahun kedepan. Dipikir-pikir, tidak ada yang se melow Andin pada saat berpisah. Yang masih mengganjal di benak Andin sebenarnya ia masih menyimpan rasa penasaran kepada Icyan, salah satu temannya yang pertama ia temui di kota pahlawan dulu. Tapi tidak terlalu larut Andin memikirkan, sesekali ia memaksa memejamkan mata karena perjalanan masih tiga jam setengah lagi sampai kota tujuan. 

Setelah sampai di Kota Surabaya, sesekali Andin mengecek hape bututnya. Bukan untuk melihat berapa persen batre nya, tapi untuk memastikan apakah ada pesan masuk baru yang belum terbaca olehnya. Karena ia sempat kehabisan batre pada saat perjalanan. 

Ping, Hape Andin berbunyi tepat dua menit setelah ia tancapkan di tempat charge.

"Ndin, sudah sampai Surabaya?" pesan yang pertama masuk di hape Andin. Ia hanya membaca dari kejauhan, tapi ia sudah tahu kalau itu pesan dari salah satu temannya yang susah ia temukan pada saat acara diklat. Yah pesan dari Icyan. Pinginnya tidak dibuka langsung, apalagi dibalas dengan cepat. Tapi kenapa tangan Andin memaksa untuk sesegera mungkin mengambil hape nya dan langsung mengetik balasan. Entahlah, terlalu rumit jika hal sesederhana itu difikirkan hehe  

Sehari dua hari ada pesan baru lagi dari Icyan untuk Andin via aplikasi daring yang hanya Andin punya. Hanya percakapan sepele, tapi terasa hangat. Entah kenapa, percakapan ringan mereka masih berlangsung sampai liburan kampus berjalan hampir tiga minggu. Tidak ada pesan khusus yang mereka bicarakan. Mereka hanya membahas hal-hal sepele yang mungkin tidak asing bagi teman biasa. 

Sesekali Andin yang memulai percakapan singkat di pagi hari. Namun juga tidak jarang bagi Icyan untuk mulai menyapa dengan gaya khasnya. Icyan merupakan mahasiswa yang aktif dengan susunan kalimat di setiap harinya. Ia sangat senang mempelajari tentang hal-hal yang menunjukkan bahwa Indonesia ini berwarna-warni dengan budaya dan peninggalan-peninggalanya, termasuk lembaran-lembaran yang menurutnya sangat unik untuk dipelajari. Sedangkan Andin adalah mahasiswa penuh dengan teori darwin dan mineral-mineral dalam bumi. Kadang ada beberapa hal yang membuat mereka tertarik untuk berdiskusi ringan karena perbedaan keilmuan yang mereka tekuni. Hal tersebut juga baru diketahui Andin setelah dua minggu mereka berinteraksi via daring. Syukurlah pertemanan kali ini sedikit banyak memberikan dampak positif kepada Andin, ia yang selalu penasaran dan semakin ingin tahu akan ilmu yang ditekuni temannya, Icyan. 

Sampai pada suatu malam, Andin gelisah. Tidak hanya sekali dua kali ia melihat hape bututnya. Tidak ada satupun pesan yang masuk. Entah pesan dari siapa yang Andin tunggu. Tidak biasanya Andin seperti itu. Setelah ia letakkan hapennya diatas meja sampai pukul 21.00 WIB, ada pesan dari Icyan teman dunia mayanya. Hanya sapaan singkat, tapi lagi-lagi Andin merasa buru-buru untuk membuka dan membalasnya. Setelah membalasnya Andin merasa bingung namun sedikit tenang dari sebelumnya.  

Apa mungkin pesan tersebut yang ditunggu Andin sejak pagi tadi ? Sehingga membuat Andin untuk melihat ponselnya berulang kali. 

Pesan yang hanya berisikan sapaan ringan namun dapat merubah suasana malamnya seakan-akan cepat berubah menjadi pagi. Mungkin dengan pagi ia dapat merasakan hangatnya sinar mentari yang memeluk harapan-harapan masa depan Andin dengan indah. Sebenarnya ada apa dengan Andin, kenapa dengan adanya pesan masuk dari Icyan, dirinya menjadi bersemangat dalam menyambut pagi hari ?

Andin

by on Agustus 15, 2019
Pict Source : Compasiana.com  " Rupanya liburan semester ini akan aku habiskan untuk bertemu dengan rekan-rekan ku di Jakarta aja...
Pict Source: cnnindonesia.com

Sebelumnya kami ucapkan, Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H semuanya !

Berbicara tentang tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha, katanya ketiga hari ini merupakan hari nya makan dan minum. Artinya kita tidak boleh menunaikan ibadah puasa sunnah pada hari tersebut.  Ceritanya pada hari Tasyrik yang bertepatan pada bulan Dzulhijjah ini merupakan hari raya nya orang islam kedua setelah Idul Fitri pada bulan Syawal. Pada hari tersebut umat islam yang menunaikan ibadah haji sedang melakukan lempar jumrah di tiga tempat dan bermalam di Mina. Selain itu pada bulan Dzulhijjah ini umat manusia sangat dianjurkan untuk berdzikir dan bertakbir kepada Allah setelah menunaikan sholat wajib.

Kali ini, seperti biasa aku melakukan kegiatan rutin sebagai pemula untuk belajar membiasakan oret-oret di halaman baru. Harapannya sih biar bisa menjadi motivasi di masa yang akan datang ehe. Belum juga dapat satu paragraf, adzan di mushollah sebelah rumah sudah memanggil. Oke aku tutup sejenak laptopku dan mulai menengok sajadah usang yang terpasang di mushollah. 

Sedikit mellow rasanya pada siang hari ini. Aku melihat Nafis yang masih bersekolah di bangku TK, putra dari salah satu tetanggaku, melantunkan sholawat atau pujian untuk menunggu jamaah datang ke mushollah. Aku bergegas berlari ke arah mushollah karena takut tertinggal di rakaat pertama. Karena biasanya tidak terlampau lama pujian di lantunkan kemudian dengan cepat imam memulai sholat berjamaah. Pada saat itu di shof belakang hanya ada aku, dan di shof paling depan hanya ada Nafis. Rasa bangga tersendiri melihat Nafis, generasi muda yang masih bersemangat untuk menuju mushollah berdebu di siang hari yang sangat terik. 

Rupanya siang ini tidak seperti siang-siang yang telah lalu. Lima belas menit pertama belum juga ada suara jamaah yang menyalakan kran depan mushollah untuk mencuci kakinya . Ditambah lagi dengan kipas yang sedikit rusak membuat semakin gerah isi mushollah. Aku pun masih sibuk memandang sudut kanan belakang dan sedikit membayangkan ada sosok nenek tua yang dirindukan salah satu cucunya. Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, ada satu mbah kung yang sudah lumayan sepuh masuk dari gerbang samping mushollah. Gak begitu asing sih karena rupanya mbah tersebut adalah ahli jamaah di desaku. Namun karena aku terlalu lama gak menetap di desa, kebanyakan rantau, jadi kurang mengenal nama-nama penduduk disini, yah kecuali sebalah samping kanan kiri depan belakang rumah dan mushollah aja hehe

"uhuk uhuk" tiba-tiba Nafis terbatuk di tengah-tengah ia pujian. Entah karena ia sedang sakit atau karena terlalu lama sholawat yang ia lantunkan. Sampai ada salah satu tetanggaku datang dan bilang "wis le ojo diterusno pujiane, sampek watuk koyok ngunu.. maringene paling teko imam e" (sudah le, jangan di lanjutkan pujiannya sampai kamu terbatuk gitu, mungkin habis ini imamnya datang). Begitu kira-kira yang diucapkan Budhe Ris kepada Nafis. Aku kira budhe akan ikut jamaah sekalian, namun ternyata dugaanku salah. Budhe hanya ingin berbicara kepada Nafis. Setelah mbah kung menunaikan sholat sunnah dua rakaat, mbah kung tiba-tiba keluar masuk pintu mushollah, mungkin ingin memastikan ada atau enggak nya jamaah yang akan hadir lagi. Namun jarum jam sudah melewati angka 30 menit setelah adzan dikumandangkan. Akhirnya mbah kung memutuskan untuk menjadi imam dengan dua makmum, aku dan Nafis. Dengan sedikit tertatih mbahkung memulai sholat dengan sangat hati-hati. Karena sudah terlalu sepuh sehingga mengurangi kelincahan dalam berdiri dan bersujud. Akhirnya setelah rokaat pertama berlalu, ada dua orang jamaah yang mengisi shof di depan dan di sebelahku. Alhamdulillah.

Setelah sholat jamaah selesai, ada rasa bangga dan sedih dari diri aku pribadi. Rasa bangganya adalah aku masih di beri kesempatan mengumandangkan takbir di hari tasyrik yang ketiga bersama mushollah tempat ternyaman mbah siti sebelum meninggalkan kami. Namun rasa sedihnya, ditengah sepinya lantunan wirid sesudah sholat berjamaah membuat aku termenung dan tiba-tiba ingat sosok nenek tua yang selalu bersandar ditempat yang dari awal sudah nyaman aku pandangi sejak aku memasuki mushollah. Yah itu adalah tempat mbah siti tiap berjamaah. Mbah siti adalah ibu dari buya yang sudah 4 tahun ini meninggalkan kami. Di mushollah ini pun mbah siti mengakhiri hidupnya. Di mushollah ini mbah siti juga di sholatkan untuk yang terakhir kalinya. Tidak hanya itu, di mushollah ini pun aku melihat wajah bersinar dan wajah cantiknya mbah siti sebelum berangkat ke pemakaman. Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa'afiha wa'fuanha. Semoga mbah siti ditempatkan di sayap-sayap syurga yang penuh kasih sayang Allah sepanjang masa. Mbah, aku buya muya dan adek-adekku semua rindu :') Sangat rindu ! Bahkan setelah mbah siti tidak lagi mengikuti jamaah disini, tapi suasana mushollah tetap seperti dulu, tetap seperti masih ada nafas mbah siti yang mendoakan kami.

Kita tidak akan pernah tau disisi mana Allah akan menempatkan kita sebagai hamba yang dapat membawa manfaat kepada sesama, sampai akhirnya kelak hanya nama yang ditinggalkan dan amal yang dibekalkan. Hari ini tepat tiga hari kita meninggalkan tanggal 10 Dzulhijjah. Sebagai orang muslim seharusnya dapat memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Semoga setiap hari menjadi hari bersyukurnya hati dan beramal kebajikan. Tidak ada yang bisa menilai tolak ukur keimanan seseorang, hanya berusaha menjadi lebih baik yang bisa kita lakukan. Salah satunya adalah membiasakan dan memukul pundak kita untuk tetap mengisi baris di mushollah, meskipun usang tapi insyaAllah membawa ketenangan. Seperti ketenangan di siang hari ini, sangat tenang. Mungkin saja hari ini masih banyak yang melakukan ibadah berkurban di tempat kerja masing-masing, sehingga lantai mushollah masih kering tiada jejak bekas air wudhu dari jari-jari kaki.
Sekian-